Anif Punto Utomo
Tepat 100 tahun lalu, sebuah mata bor menembus tanah Kamojang. Tak seorang pun yang berdiri di tepi sumur itu membayangkan bahwa desis uap dari perut bumi akan menjadi awal perjalanan panjang Indonesia membangun energi panas bumi. Sebuah perjalanan yang melintasi masa kolonial, perang kemerdekaan, krisis ekonomi, hingga akhirnya mengantarkan panas bumi menjadi bagian penting dari masa depan energi nasional. Buku ini mengisahkan satu abad perjalanan tersebut. Dari pengeboran pertama pada 1926 hingga kapasitas terpasang yang kini mencapai 2,74 GW, setara dengan penyediaan listrik bagi sekitar 4,7 juta rumah tangga di Indonesia. Setiap megawatt yang terukir adalah jejak dari kerja keras, keberanian, dan ketekunan dari para perintis, ilmuwan, pemerintah, pelaku industri, serta masyarakat. Namun, perjalanan ini belum berakhir. Dengan potensi panas bumi sebesar 23,7 GW, Indonesia baru memanfaatkan sekitar 11,5 persen dari total potensinya. Di balik angka tersebut terbentang peluang besar untuk mempercepat pengembangan panas bumi nasional. Target menjadikan Indonesia sebagai negara dengan kapasitas terpasang panas bumi terbesar di dunia pada 2030 menjadi momentum untuk memasuki babak baru perjalanan panas bumi Indonesia satu abad mendatang. Lebih dari sekadar catatan sejarah, buku ini adalah penghormatan kepada para perintis sekaligus ajakan untuk melanjutkan estafet perjuangan mereka. Sebab panas bumi bukan sekadar sumber daya alam yang perlu dimanfaatkan, melainkan juga amanah yang harus dijaga agar terus menerangi negeri—hari ini, esok, dan bagi generasi yang akan datang. Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang hanya memiliki kekayaan alam, melainkan bangsa yang mampu mengubah kekayaan itu menjadi kemakmuran bagi seluruh rakyatnya.